Selasa, 09 Juli 2013

Motivasi dalam Human Relations


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Dengan berkembangnya psikologi ilmiah modern pada pertengahan abad ke-19, kaitan antara dua unsur itu memperoleh arti baru yang spesifik. Study mengenai motivasi manusia ketika itu sangat dipengaruhi oleh karya-karya biolog inggris, Charles Darwin, bahwa manusia dianggap sebagai makhluk yang terlibat dalam pergulatan keras dengan alam untuk bisa bertahan hidup. Dari pergumulan keras tersebut, diasumsikan bahwa manusia memiliki hasrat atau keinginan yang kuat untuk tetap hidup.[1]
Human relations adalah membina hubungan lewat sebuah komunikasi persuasif secara interaktif yang menginginkan kepuasan antara kedua belah pihak. Baik itu dalam segala bidang kehidupan ataupun sebatas dalam situasi kerja dan dalam organisasi kekaryaan. Keith Davis mengemukakan bahwa “Human relatios at work” adalah interaksi antara seseorang dengan orang lain dalam situasi kerja dan dalam organisasi kekaryaan. Ditinjau dari kepemimpinannya, yang bertanggung jawab dalam suatu kelompok merupakan interaksi orang-orang menuju situasi kerja yang memotivasi untuk bekerjasama secara produktif, sehingga dicapai kepuasan ekonomi, psikologis, dan sosial.
Secara sempit human relations hanya terjadi dalam situasi kerja dan dalam organisasi kekaryaan untuk menggugah gairah kerja dengan semangat kerjasama yang produktif serta berbahagia hati. Dalam hubungannya dengan manajemen sumber daya manusia, komunikasi yang dalam hal ini human relations bukan hanya sekedar pengiriman dan penerimaan pesan, tetapi lebih jauh dari itu. Human relations bertujuan mengembangkan potensi sumber daya manusia. Dengan tujuan tersebut, pengembangan potensi seseorang dalam suatu pemerintahan tidak akan terlepas dari upaya peningkatan motivasi dan prestasi kerja seseorang. Mereka yang termotivasi dengan baik akan memberikan konstribusi yang lebih besar terhadap keefektifan organisasinya.
Dengan asumsi dasar inilah, kami dari kelompok I akan mengemukakan tentang motivasi dalam human relations, yang kami rangkai dalam beberapa rumusan masalah.
B.  Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan motivasi ?
2.    Bagaimana keterkaitan motivasi dengan human relations ?
3.    Bagaimana motivasi dalam human relations ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Motivasi
Motivasi adalah kekuatan atau daya dorong yang menggerakkan sekaligus mengarahkan kehendak atau perilaku seseorang dan segala kekuatannya untuk mencapai tujuan yang diinginkannya, yang muncul dari keinginan memenuhi kebutuhannya.[2] Sedangkan, dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI)  motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.
Menurut Hilgard dan Atkinson, tidaklah mudah untuk menjelaskan motivasi itu apa, sebab :
1.    Pernyataan motif antar orang adalah tidak sama, budaya yang berbeda akan menghasilkan ekspresi motif yang berbeda pula.
2.    Motif yang tidak sama dapat diwujudkan dalam berbagai perilaku yang tidak sama.
3.    Motif yang tidak sama dapat diekspresikan melalui perilaku yang sama.
4.    Motif dapat muncul dalam bentuk-bentuk perilaku yang sulit dijelaskan
5.    Suatu ekspresi perilaku dapat muncul sebagai perwujudan dari berbagai motif.[3]
Secara bahasa Motif adalah suatu alasan atau dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu, melakukan tindakan atau bersikap tertentu. Jadi, Motif itu adalah sesuatu yng ada dalam diri seseorang yang mendorong orang tersebiut untuk bersikap dan bertindak guna mencapai tujuan tertentu. Motif dapat berupa cita-cita. Motif ini merupakan tahap awal dari proses motivasi.

BENTUK-BENTUK DARI MOTIVASI, yaitu :
1.    Motivasi dan manipulasi. Motivasi yaitu menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu sebab dia sendiri yang ingin melakukan hal itu. Sedangkan manipulasi yaitu suatu cara untuk menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu, namun hal itu dia lakukan karena orang lain menginginkan dia untuk melakukannya.
2.    Motivasi berdasarkan sikap, yaitu motivasi yang lahir dari diri sendiri, menyangkut bagaimana orang itu berpikir dan merasa. Motivasi ini merupakan keyakinan dan kepercayaan diri seseorang, sikap mereka terhadap kehidupan, positif atau negatif.
3.    Motivasi berdasarkan imbalan, yaitu sesuatu hal yang dilakukan oleh seseorang itu dikarenakan adanya imbalan, baik berupa uang, penghargaan, maupun penguasaan.
4.    Motivasi dan lingkungan, motivasi ini berlaku baik bagi motivasi berdasarkan sikap maupun yang berdasarkan imbalan. Misalnya, disuatu tempat pekerjaan diperkenalkan sebentuk persaingan atau program insentif[4] yang telah direncanakan dengan matang. Kalau lingkungan dimana program itu berlangsung, tidak mendukung umpamanya tidak terciptanya hubugan yang harmonis, terdapat pengkhianatan, ketidakpercayaan, dan suasana tidak bahagia, maka program ini tidak akan berhasil.[5]

CARA MEMOTIVASI DIRI, yaitu :
1.    Memotivasi diri melalui rasa percaya diri
Kepercayaan diri ini ditunjukkan pada kepercayaan bahwa kita memiliki otak yang luar biasa kehebatannya, melebihi kemampuan alat tercanggih sekalipun buatan manusia. Inilah aset kita yang paling berharga, apa yang kita masukkan kedalam kepala kita itulah yang akan kita dapatkan kembali. Sebagian orang mempunyai otak yang penuh dengan pemikiran dan pengalaman yang negatif
Maka ketika dihadapkan pada sebuah kesempatan dan tantangan baru, otak mereka ketika ditanya mengirimkan jawaban : “TIDAK” , atau “Kamu tidak mampu”, atau tanggapan lain yang senada dengan hal tersebut. Untuk itulah ada beberapa hal yang berkaitan dengan pembangunan motivasi diri dengan membangun kepercayaan akan kemampuan diri sendiri.
2.    Memotivasi diri dengan menentukan sasaran
Tidak banyak orang yang selalu berhasil menentukan sasaran atau target apa yang ingin mereka capai sehingga mereka juga tidak memiliki arah yang jelas dimana tenaga hendak diarahkan. Sasaran atau target yang sudah kita tetapkan akan mengingatkan kita untuk mengejarnya. Jadi, disini tampak bahwa suatu target yang baik dapat berperan penting untuk menggerakkan kita.
3.      Memotivasi diri dengan menyusun catatan mengenai sukses yang pernah diraih
Setiap orang sekurang-kurangnya dalam satu hal yang kecil pernah meraih sukses dalam hidupnya. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa dia memiliki peluang untuk meraih hal yang sama di masa depan. Sukses di masa lalu dapat menjadi bahan bakar yang dapat mengobarkan kepercayaan pada diri sendiri. Mengingat-ingat sukses di masa lalu akan memberi kekuatan untuk dapat yakin bahwa di masa depan pun semakin dapat diraih.

HAMBATAN TUMBUHNYA MOTIVASI,[6] yaitu :
1.    Kurang percaya diri
Disini muncul keragu-raguan dalam diri seseorang akan kemampuannya untuk melakukan suatu pekerjaan atau aktivitas yang disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :
§  Rasa percaya diri hilang karena pengaruh perkataan orang lain, yang cenderung memberikan penilaian-penilaian negatif terhadap apa yang kita lakukan.
§  Rasa kurang percaya diri yang disebabkan oleh pengondisian yang dialami semasa kanak-kanak. Orangtua serba “melarang” sehingga melalui suatu proses internalisasi, hal yang terpatri dalam jiwa si anak yang membuatnya kelak takut melakukan sesuatu.
§  Rasa rendah diri karena pengalaman masa lalu, dimana orang pernah bahkan beberapa kali mengalami kegagalan. Ini akan terus menghantui pikirannya ketika akan memulai sesuatu yang lain.
2.    Kecemasan berlebihan
Kecemasan adalah perasaan yang menghinggapi seseorang manakala ia terbayang akan apa yang bakal menimpa dirinya bila gagal, rasa takut kehilangan pekerjaan jika mereka melakukan kesalahan dan sebagainya. Dengan persaan-perasaan seperti ini, maka orang kebanyakan memilih untuk tetap aman dan selamat tanpa tindakan, yang juga berarti tidak pernah berani mengambil keputusan atau tindakan yang perlu dilakukan.
3.    Opini negatif
Opini negatif dapat sampai kepada kita dari berbagai sumber. Opini yang negatif dapat membuat seseorang menjadi tidak antusias dan termotivasi tentang sesuatu. Informasi dapat berfungsi sebagai pembentuk opini dalam diri kita. Menghadapi berbagai informasi kita harus memiliki sikap kritis dan kemampuan memadai untuk bisa menilai semua informasi itu. Kita tidak boleh di bentuk atau ditentukan oleh opini-opini negatif.


B.  Keterkaitan Motivasi Dengan Human Relations
Human relation merupakan bentuk pola relasi yang dibangun antar individu untuk membangun interaksi timbal balik sebagai upaya persuasi satu sama lain.[7] Karena inti dari human relations adalah membina hubungan lewat sebuah komunikasi persuasif secara interaktif yang menginginkan kepuasan antara kedua belah pihak. Entah itu dalam segala bidang kehidupan ataupun dalam situasi kerja atau dalam organisasi.[8]
Motivasi adalah kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki. Jadi motivasi berarti membangkitkan motif, daya gerak, atau menggerakkan seseorang atau diri sendiri untuk bertindak dalam rangka mencapai suatu kepuasaan atau suatu tujuan.[9]
Secara sekilas human relations terlihat sebgai sesuatu hal yang biasa dan mudah dilakukan, tetapi sebenarnya tidaklah demikian adanya. Human relations merupakan suatu hal yang dinamis dan tidak terlepas dari faktor manusia. Hubungan kerja antara atasan dan bawahan misalnya. Komunikasi, tugas, dan tanggung jawab atau pendelegasian wewenang akan sangat sulit dilakukan jika tidak dibarengi dengan proses human relations yang baik pula. Disadari atau tidak, human relations memberi pengaruh positif terhadap motivasi kerja seseorang.[10]
Motivasi ketika dihubungan dengan praktek human relations mengarah pada 2 hal yaitu pertama, bagaimana memotivasikan, dan yang kedua bagaimana hingga termotivasikan. Hal yang pertama lebih kepada komunikator sebgai subjek pemberi pesan, dalam hal ini kita berbicara cara dan pilihan-pilihan apa yang bisa memotivasi komunikan. Sedangkan yang kedua, kita lebih berbicara pada tataran teoritis terjadinya motivasi dalam diri manusia.
Dengan melakukan praktek human relations setidaknya menginginkan kepuasan antara kedua belah pihak. Untuk itulah kita harus mengerti terlebih dahulu apakah yang menjadi kebutuhan komunikan yang palig mendesak pada waktu tersebut, dengan berlandaskan win win solutions. Karena sudah jelas dalam praktek human relations ada penekanan pada kata persuasif, yang bisa diartikan sebagai ajakan untuk sesuatu. Ini artinya ada sesuatu yang dititipkan pada pesan yang disampaikan oleh komunikator dengan menghasilkan tujuan tertentu. Tetapi apakah komunikan merespon 100%  stimulus yang diberikan ? . Tunggu dulu ...
Disinilah letak hubungan yang paing mendasar antara motivasi dengan human relations. Jadi, letak motivasi disini adalah sebagai salah satu item yang dijadikan parameter untuk menghasilkan tujuan utama yakni RESPON. Seperti yang dikemukakan oleh Alan H Monroe tentang “motivated sequence” atau tahap-tahap termotivasikan.
·      Attentions (perhatian), disini kita berbicara kepada langkah apa yang diambil untuk mengarahkan kerja indera kepada sesuatu yang ingin kita sampaikan.
·      Needs (kebutuhan), lalu bangkitka kebutuhannya
·      Satisfactions (pemuasan), berikan cara untuk memuaskan kebutuhan tersebut
·      Visulization (visualisasi), gambarkan dalam pikirannya keuntungan dan kerugian apa yang diperoleh apabila melakukan gagasan kita.
·      Actions (tindakan), dan akhinya doronglah untuk bertindak[11]

Contoh kasus
Pasangan muda sedang duduk berdua dipantai Losari, sebut saja A untuk perempuan dan B untuk laki-laki.
A    : coba lihat rambut kamu ! (Attentions/perhatian)
B     : kenapa ? (sambil mengurai rambut panjangnya)
A    : kayaknya sudah kepanjangan y, potong saja ! memangnya tidak panas ? (proses meyakinkan kalau itu kebutuhannya/need)
B     : ah ... masa si yang ?
A    : iya betul , sudah saatnya rambut kamu dipotong (satisfactions/pemuasan)
B     : ah, aku nggak mau rambut aku dipotong
A    : begini, kalau rambut kamu dipotong kamu lebih terlihat bersih, gagah, dan tidak terlihat seram lagi. Tetapi, kalau kamu tidak potong, besok-besok aku malu ah kalau jalan sama kamu. Nanti dikira bawa penjahat lagi (Visualization). Ayolah cukur rambut kamu sekarang (Action/tindakan).
B     : Hmm ....
      
Motivasi manusia untuk berperilaku dalam masyarakat dilihat dari faktor sosiopsikologisnya seperti : safety needs (kebutuhan akan rasa aman), belongingness and love needs (kebutuhan akan keterikatan dan cinta), esteem needs (kebutuhan akan penghargaan), dan self actualization (kebutuhan untuk pemenuhan diri).
       Human Relations fokus pada bagaimana metode komunikasi yang dipergunakan mampu memotivasi orang-orang dalam organisasi agar terjadi sikap kooperatis, kedisiplinan, etos kerja, produktivitas dan kepuasan bagi kedua belah pihak (antara perusahaan & pekerja).[12]

C.  Motivasi dalam Human Relations
H. Bonner (1975), mengemukakan bahwa Interaksi adalah hubungan antara dua atau lebih individu manusia dan perilaku individu yang satu mempengaruhi, mengubah, dan memperbaiki perilaku individu lain atau sebaliknya. Proses interaksi ini melibatkan perasaan, kata yang diucapkan dalam komunikasi, mencerminkan perasaan dan sikap, proses penyesuaian diri. Hubungan antar manusia secara luas mencoba menemukan, mengidentifikasi masalah dan membahas untuk mendapatkan pemecahan masalah.[13]
Human Relation adalah kegiatan rohaniah, yaitu kegiatan rohaniah yang menyangkut watak, sifat, perangai, kepribadian, sikap dan tingkah laku menuju kepuasan hati, proses ini berlangsung pada dua atau tiga orang yang terlibat dalam komunikasi antar personal yang bersifat dialogis. Sehingga, masing-masing mengetahui, sadar dan merasakan efeknya. Jika semuanya merasa senang maka kegiatan human relation yang dibangun berhasil. Namun, jika tidak menimbulkan rasa puas maka kegiatan human relation itu akan gagal.
Untuk mempraktekan human relation, seorang pemimpin perlu mempelajari sifat tabiat karyawan, juga tingkah laku mereka dalam hidup berkelompok dan bermasyarakat. Manusia tidak hanya mempunyai kemampuan vegetatif (makan, minum dan berkembang biak), Kemampuan sensitif (bergerak, mengamati, bernafsu dan berperasaan) dan juga kemampuan intelektif (memiliki hasrat dan kecerdasan).
Dalam kajian komunikasi, human relation menjadi fungsi  komunikasi antarpersonal. Karena di sini melibatkan dua atau lebih individu yang saling berinteraksi. Kalau didefenisikan secara literlek human relation merupakan sikap manusia yang terkesternalisasi dalam bentuk perilaku komunikasi kemanusiaan. Human relation atau hubungan manusiawi bisa terjadi dimanapun dan kapanpun. Hubungan manusiawi seperti ini berdimensi luas atau bisa terjadi dimanapun dan kapanpun. Kita bisa berbicara dengan orang di samping kita ketika sedang berada dalam Bus, Kereta, Kapal, Pesawat, bahkan saat nonton di Bisoskop. Pada umumnya komunikasi ini tidak terarah dan hanya mencoba membangun komunikasi interaktif dangkal.
Prestasi kerja seorang karyawan kadang-kadang tidak sama dengan kecakapan yang dimilikinya. Memang faktor penyebabnya tidak sama antara karyawan yang satu dengan yang lainnya, Faktor penyebab ini tergantung dari orangnya sendiri atau lingkungan kerjanya. Tidak sesuainya prestasi kerja dengan kecakapannya itu bagi seseorang karyawan mungkin karena tidak mempunyai kemauan bisa juga karena tidak menyukai pimpinannya atau dapat juga disebabkan oleh kurangnya energi dan lain sebagainya.
Dalam psikologi keadaan seperti itu dikatakan sebagai berikut; bukan kecakapan (ability) yang kurang, melainkan motivasi yang kurang atau bahkan tidak ada. Motif yang tidak kuat, sehingga hasil pekerjaannya tidak sesuai dengan kecakapannya.
Motif adalah kondisi seseorang yang mendorong untuk mencari suatu kepuasan atau mencapai tujuan. Dapat juga dikatakan bahwa motif adalah daya gerak yang mendorong sesorang untuk berbuar sesuatu. Sedang motivasi adalah kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki. Jadi motivasi berarti membangkitkan motif, daya gerak, atau menggerakkan seseorang atau diri sendiri untuk bertindak dalam rangka mencapai suatu kepuasaan atau suatu tujuan.[14]
Yang menjadi pusat perhatian yaitu kunci segala aktivitas human relations adalah motivasi, dimana kita semua telah mengetahui bahwa human relations merupakan komunikasi persuasif yang selalu mengajak komunikan ke jalan yang lebih baik dari sebelumnya. Nah, dalam proses pengajakan inilah motivasi mengambil perannya untuk bagaimana ia mampu membujuk, memberikan semangat untuk bangkit dari keterpurukan pikiran, hati dan tindakan.
Memotivasikan para karyawan untuk bekerja giat berdasarkan kebutuhuan mereka secara memuaskan, yakni kebutuhan akan upah yang cukup bagi keperluan hidup keluarganya sehari-hari, kebahagiaan keluarganya, kemajuan dirinya sendiri, dan lain sebagainya.
Seseorang memasuki suatu organisasi, karena ia berpikir organisasi akan dapat membantu dia mencapai tujuannya. Demikian pula para karyawan, mereka mempunyai organisasi. Mereka anggota organisasi kekaryaan di mana mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pemimpin organisasi tersebut dapat mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas para karyawan dan mengkooperasikan hasrat-hasrat mereka untuk bekerja bersama-sama. Ini semua tertuju kepada sasaran yang direncanakan. Dan di sini komunikasi memegang peranan penting. Human relations seperti ditegaskan di muka adalah komunikasi persuasif. Dengan melaksanakan human relations itu pemimpin organisasi atau pemimpin kelompok melakukan komunikasi dengan para karyawannya secara manusiawi untuk menggitakan mereka bekerja bersama-sama, seghingga hasilnya memuasakan di samping mereka bekerja dengan hati puas.[15]
Peran  human relation sangat menentukan aktifitas organisasi dalam mencapai tujuannya. Oleh karena itu, human relations  harus memiliki evaluasi prestasi kerja bagi seluruh orang-orang yang ada di dalam organisasi, sehingga organisasi tersebut dapat mengetahui sejauh mana tingkat pencapaian prestasinya dan hal ini dapat dijadikan tolak ukur untuk pemberian kompensasi, pengembangan potensi diri serta perbaikan lingkungan kerja dalam melakukan inovasi yang akhirnya akan meningkatkan motivasi dan juga meningkatkan prestasi kerjanya, maka organisasi harus memberikan insentif atau membuat kebijakan tertentu dalam rangka memotivasi pegawainya, agar dapat memberikan kontribusi balikan kepada organisasi, yaitu berupa prestasi kerja yang tinggi.[16]
“Human relations dapat diusahakan untuk menghilangkan rintangan-rintangan komunikasi, mencegah salah pengertian dan mengembangkan segi konstruktif sifat tabiat manusia. Dalam melaksanakan human relations itu pemimpin organisasi atau lembaga melakukan komunikasi dengan para karyawannya secara manusiawi untuk menggiatkan mereka bekerja bersama-sama, sehingga hasilnya memuaskan di samping itu mereka bekerja dengan hati puas”.
Adapun konsep dasar human relations adalah hakekat manusia itu sendiri. Sehubungan dengan  manusia, maka terdapat empat asumsi (anggapan dasar) yaitu :
  1. Perbedaan-perbedaan individual.
  2. Manusia seutuhnya.
  3. Motivasi.
  4. Martabat manusia (human dignity)
Di samping itu, motivasi merupakan bagian dari human relations untuk bagaimana meningkatkan sumber daya manusia yang ada dalam diri seseorang, sehingga seseorang yang diberi motivasi dapat bekerja lebih keras, berusaha mencari tingkat tanggung jawab, bekerja tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditentukan, dan melakukan pekerjaannya dengan profesional.
Motivasi kerja, yaitu daya gerak, gairah atau semangat kerja yang diperlihatkan karyawan dalam melaksanakan tugas pekerjaannya, yang diperoleh melalui imbalan-imbalan (economic, social, dan psicological rewards) atau melalui persesuaian pimpinan/atasan suatu lembaga
Dalam motivasi kerja dapat diukur sebagai berikut :
1.    Tinggi, motivasi kerja tinggi apabila bawahan memiliki disiplin kerja yang tinggi, mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaan serta menghasilkan kualitas hasil pekerjaan yang sangat memuaskan bagi atasan.
2.    Sedang, motivasi kerja sedang apabila bawahan kurang memiliki disiplin kerja, kurang mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaan serta kualitas hasil pekerjaan yang kurang memuaskan bagi atasan.
3.    Rendah, motivasi kerja rendah apabila bawahan tidak memiliki disiplin kerja, tidak memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaan serta kualitas hasil pekerjaan yang tidak memuaskan bagi atasan.[17]
Seperti dijelaskan diatas, kunci dari kegiatan Human Relations adalah motivasi yang dapat mendorong kinerja karyawan, seorang pimpinan harus dapat memahami kebutuhan karyawan dan harus menyesuaikan penghargaan yang diberikan kepada karyawan tersebut, seperti : gaji yang layak, pemberian cuti, dan promosi jabatan bagi karyawan. Peningkatan karir dalam kaitannya dengan Human Relations adalah sebagai motivasi bagi karyawan, dengan demikian karyawan akan menunjukan loyalitasnya kepada perusahaan dengan bekerja secara maksimal. Peningkatan karir yang diberikan perusahaan kepada karyawannya akan mempengaruhi organsasi dan kinerja karyawan, dimana peningkatan karir merupakan pendekatan formal yang dilakukan organisasi atau perusahaan untuk menjamin orang-orang yang ada didalamnya mempunyai kualifikasi dan kemampuan serta pengalaman yang cocok ketika dibutuhkan, oleh karena itu. Sebuah organisasi perlua mengelola karir dan mengembangkannya agar produktivitas karyawan tetap terjaga dan mampu mendorong karyawan untuk selalu melakukan hal yang terbaik dan menghindari frustasi kerja yang berakibat penurunan kinerja perusahaan, pengelolaan dan pengembangan karir akan meningkatkan efektivitas dan kreativitas sumber daya manusia yang dapat menumbuhkan komitmen yang kuat dan meningkatkan kinerjanya dalam upaya mendukung perusahaan untuk mencapai tujuannya. Cianni dan Wnuck menyatakan bahwa karyawan yang mempunyai kesempatan yang tinggi dalam meningkatkan karirnya akan merangsang motivasinya untuk bekerja lebih baik. Perusahaan yang memiliki manajemen yang baik dalam pengembangan karir karyawannya akan mempunyai kinerja dan kemauan karyawan untuk berpartisipasi dalam aktivitas pengembangan dan perilaku dalam melakukan pengembangan, dimana hal tersebut akan meningkatkan kinerjanya.
Jika dalam sebuah organisasi tidak memiliki manajemen yang baik dalam pengelolaan dan pengembangan karir maka akan muncul ketidakpuasan dari karyawan terhadap kinerja pimpinan perusahaan dan produktivitas organisasi akan berjalan lambat karena karyawan merasa kesempatan untuk mendapatkan jenjang karir didalam organisasi. Jadi, pengembangan karir merupakan hal yang penting untuk mendorong kinerja karyawan.[18]
Konsep dasar motivasi human relations adalah bahwa manajer harus dapat menumbuhkan perasaan para pegawai bahwa mereka memang sangat dibutuhkan oleh suatu kelompok atau organisasi, mereka harus diyakinkan bahwa mereka merupakan orang-orang penting. Seorang yang tidak dapat diterima dalam suatu kelompok akan merasa asing, orang tersebut tidak akan dapat menumbuhkan kerjasama, dan tidak adanya kerjasama akan mengakibatkan tujuan tidak dapat dicapai. Sebaliknya orang yang bisa diterima oleh suatu kelompok akan berusaha menunjukkan bahwa mereka adalah memang benar-benar penting, sehingga akan berusaha bekerja dengan penuh inisiatif untuk memajukan organisasinya.[19]










BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
*   Motivasi adalah kekuatan atau daya dorong yang menggerakkan sekaligus mengarahkan kehendak atau perilaku seseorang dan segala kekuatannya untuk mencapai tujuan yang diinginkannya, yang muncul dari keinginan memenuhi kebutuhannya.
*   Motif itu adalah sesuatu yng ada dalam diri seseorang yang mendorong orang tersebiut untuk bersikap dan bertindak guna mencapai tujuan tertentu.
*   Human relation merupakan bentuk pola relasi yang dibangun antar individu untuk membangun interaksi timbal balik sebagai upaya persuasi satu sama lain. Disadari atau tidak, human relations memberi pengaruh positif terhadap motivasi kerja seseorang.
*   Motivasi ketika dihubungan dengan praktek human relations mengarah pada 2 hal yaitu pertama, bagaimana memotivasikan, dan yang kedua bagaimana hingga termotivasikan. Hal yang pertama lebih kepada komunikator sebgai subjek pemberi pesan, dalam hal ini kita berbicara cara dan pilihan-pilihan apa yang bisa memotivasi komunikan. Sedangkan yang kedua, kita lebih berbicara pada tataran teoritis terjadinya motivasi dalam diri manusia.
*   kunci segala aktivitas human relations adalah motivasi, dimana kita semua telah mengetahui bahwa human relations merupakan komunikasi persuasif yang selalu mengajak komunikan ke jalan yang lebih baik dari sebelumnya. Nah, dalam proses pengajakan inilah motivasi mengambil perannya untuk bagaimana ia mampu membujuk, mendorong, memberikan semangat untuk bangkit dari keterpurukan pikiran, hati dan tindakan.
*   Human Relations fokus pada bagaimana metode komunikasi yang dipergunakan mampu memotivasi orang-orang dalam organisasi agar terjadi sikap kooperatis, kedisiplinan, etos kerja, produktivitas dan kepuasan bagi kedua belah pihak (antara perusahaan & pekerja).
*   Konsep dasar motivasi human relations adalah bahwa manajer harus dapat menumbuhkan perasaan para pegawai bahwa mereka memang sangat dibutuhkan oleh suatu kelompok atau organisasi, mereka harus diyakinkan bahwa mereka merupakan orang-orang penting


[1] motif-dan-motivasi-dalam-human-relation.html
[2] motif-dan-motivasi-dalam-human-relation.html
[3] teori-motivasi.html
[4] tambahan penghasilan (uang, barang, dsb) yg diberikan untuk meningkatkan gairah kerja; uang perangsang
[5] motif-dan-motivasi-dalam-human-relation.html
[6] motif-dan-motivasi-dalam-human-relation.html
[7] peran-human-relation-dalam-menunjang-kinerja-public-relation-515342.html
[8] motivasi-berkaitan-erat-dengan-human.html
[9] Tugas Kampus  Human Relation.htm
[10] aktivitas human relations dalam meningkatkan motivasi kerja pegawai kantor _ jaring skripsi.htm
[11] motivasi-berkaitan-erat-dengan-human.html#close
[12] asumsi-dasar-hrd-1.html, human relation sebagai praktek komunikasi & public relations
[13] Hubungan Antar Manusia (Human Relation) _ Komunikasi dan Konseling _ LUSA.htm
[14] Tugas Kampus  Human Relation.htm
[15] Tugas Kampus  Human Relation.htm
[16] aktivitas human relations dalam meningkatkan motivasi kerja pegawai kantor _ jaring skripsi.htm
[17] aktivitas human relations dalam meningkatkan motivasi kerja pegawai kantor _ jaring skripsi.htm
[18] human-relations.html
[19] Sutarto, dasar-dasar organisasi,  hal 319

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar